Hasil Perhitungan Pileg Sementara

Koboy-koboy Senayan Banyak yang Tumbang

Anggota Komisi III DPR Johan Budi (Foto: Istimewa)
Anggota Komisi III DPR Johan Budi (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka – Nama besar dan suara lantang para “koboy” Senayan tidak memberikan jaminan bagi mereka lolos kembali sebagai anggota DPR. Hasil perhitungan suara sementara Pileg 2024 menunjukkan, banyak koboy Senayan yang tumbang.

Contohnya Anggota Komisi III DPR Johan Budi, yang bertarung di daerah pemilihan (Dapil) Jawa Timur VII. Perolehan suara mantan Jubir KPK ini kalah jauh dibanding Caleg pendatang baru yang sama-sama maju dari PDIP yakni Budi Sulistyono alias Kanang dan Novita Hardini.

Kanang adalah mantan Bupati Ngawi dua periode. Pencalonannya sebagai Caleg dari Dapil yang meliputi wilayah Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, dan Magetan mendapat simpati publik.

Sementara, Novita adalah istri Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin. Selain itu, Novita juga dikenal sebagai artis yang pernah main dalam film berjudul “Buya Hamka”.

Kanang dan Novita, diprediksi lolos dan melenggang ke Senayan. Berdasarkan hasil perhitungan sementara KPU pada Minggu (3/3/2024), Kanang memimpin dengan 97.887 suara dan Novita dengan 81.841 suara. Sementara Johan Budi hanya mampu meraih 40.609 suara.

Di dapil ini, total PDIP berada di urutan kedua terbesar dengan 312.679 suara. Urutan pertama adalah Partai Demokrat yang mengantongi 375.386 suara. PDIP diprediksi mendapat dua kursi di dapil ini.

Vokalis PDIP Arteria Dahlan juga terancam kehilangan kursi. Anggota Komisi III DPR yang mencalonkan diri dari Dapil Jawa Timur VI tersebut hanya baru mampu mendapatkan 45.993 suara. Jumlah tersebut jauh di bawah raihan Caleg PDIP lainnya yakni Pulung Agustanto dengan 136.257 suara dan Sri Rahayu yang meraih 83.703 suara.

Dengan komposisi perolehan suara Pemilu ini, Pulung dan Sri berpotensi lolos ke Senayan. Sebab, suara sah PDIP dan Calegnya di Dapil Jatim VI menjadi yang tertinggi dengan 428.435 suara. Disusul PKB dengan 312.067 suara.

Lalu, politisi PDIP Masinton Pasaribu juga terancam tergusur dari Senayan. Sebab, saat ini suaranya di Dapil DKI Jakarta II masih berada di bawah koleganya dari PDIP, yakni Once Mekel dan Eriko Satarduga.

Di dapil ini, Once Mekel jadi jawara untuk internal PDIP dengan raihan 25.193 suara. Disusul Eriko Satarduga dengan 19.625 suara. Sementara, Masinton baru mengantongi 19.239 suara dan berada di urutan keempat. Di dapil ini, PDIP diprediksi meraih dua kursi, dan posisi Masinton sedang terancam, meski tetap punya peluang.

Menanggapi kondisi ini, Johan Budi tetap santai. Mantan Juru Bicara Presiden ini mengaku masih menunggu hasil perhitungan resmi KPU. Apa pun hasilnya nanti, dia bakal menerimanya dengan lapang dada.

“Kita nunggu hasil akhir. Apa pun hasil akhirnya, saya terima saja. Yang kedua apapun hasilnya, saya menerima dengan legowo berarti rakyat lebih suka ada Caleg yang lain dibanding saya, gitu saja,” ujarnya, Minggu (3/3/2024).

Direktur Eksekutif Trias Politika Agung Baskoro menilai, banyak faktor yang memengaruhi penurunan elektabilitas Caleg petahana, termasuk para koboy Senayan. Menurutnya, alasan paling utama adalah menurunnya frekuensi anggota terpilih turun ke dapil.

“Dalam artian, selain merawat Dapil secara intensif melalui program, juga diperlukan kehadiran kandidat maupun relawannya dalam keseharian warga yang selama ini diwakili,” ulasnya, Minggu malam (3/3/2024).

Agung melanjutkan, faktor lainnya adalah sosok pendatang baru yang menantang eksistensi Caleg petahana. Sebab, saat ini banyak Caleg baru yang juga punya pengaruh kuat di tengah masyarakat.

“Baik kuat dari popularitas-elektabilitas maupun isi tas? Karena hal-hal ini akan berpengaruh bagi para petahana dalam meresponnya,” pungkasnya.

Sementara, analis politik dari UIN Syarif Hidayatullah Dedi Kurnia Syah mengatakan, penurunan suara petahana di Pileg 2024, khususnya dari PDIP umum terjadi. Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena partai politik mengalami perubahan elektabilitas, imbas dari kontestasi Pilpres. “Terbukti, kandidat petahana dari partai di luar PDIP tetap kokoh,” paparnya.

Jika merujuk pada Arteria Dahlan, pengamat dari Indonesia Political Opinion (IPO) ini menyampaikan, hal itu bisa terjadi karena sikap arogannya yang lebih populer dibanding keikutsertaannya mengawal aspirasi publik. Terlebih, daerah pilihan Arteria banyak dihuni tokoh lokal yang cukup kuat, seperti Kusuma Judi Leksono dan Heru Tjahjono dari Golkar. “Dua kandidat ini terbukti menambah suara Golkar, itu bisa menjadi alasan turunnya suara PDIP,” tutupnya.https://saladbiji.com/wp-admin/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*